Senin, 28 Juli 2014

PERANG GAZA 2014- BERTEPATAN DENGAN BULAN RAMADHAN.... ??? ADA PERILAKU YANG ANEH DARI REGIME MESIR-SAUDI ARABIA.... DAN ISRAEL..YANG DIDUKUNG AMERIKA SERIKAT DAN INGGRIS...?? ... SECARA BERKOMPLOT.. MENYERANG GAZA-PALESTINA... YANG KONON ADALAH PUSAT HAMAS.. YANG NOTA BENE PENDUDUK TERPADAT DENGAN MAYORITAS UMMAT ISLAM ... DI PALESTINA.. .YANG BERPUSAT DI GAZA...??? KOTA.. DENGAN LUAS KONON 10 KM X 35 KM...SAJA...??? >> ADA APA REGIM PENGUASA SAUDI-MESIR DAN ISRAEL... SERTA DUKUNGAN MASIF DARI AS-INGGRIS... YANG DIMOTORI... OLEH... OBAMA-KERRY-DAN PARA DEDENGKOT NEOKONS DAN NEOLIBS SERTA PARA EMBAH BUYUT RAJA2 PENJAJAH DUNIA.. DI EROPA..??>> .... PERANG GAZA YANG ANEH... NEGERI LILIPUT..YANG RELAIF SANGAT MISKIN... DAN DALAM BLOKADE... . YANG DIHUNI MAYORITAS UMMAT ISLAM PALESTINA ITU DIGEMPUR OLEH ISRAEL DENGAN KEKUATAN PENUH -UDARA-LAUT DAN DARAT..SERTA DRONE... SELAMA ... BULAN RAMADHAN DAN BAHKAN SEBELUMNYA TELAH DITEROR..DAN DITEKAN.. OLEH ISRAEL- AS- MESIR DAN SAUDI CS... YANG MELIBATKAN BERBAGAI CARA2 JAHAT.. DAN INTELIGEN2...BAYARAN UNTUK KEPENTINGAN RAJA SAUDIA.DAN TUAN2NYA... YAKNI.. DENGAN PURA2 MEMBERI BANTUAN.. KEPADA GAZA..OLEH.. ROMBONGAN DARI.... KUWAIT-QATAR.. DAN GCC -TELUK YANG TERKENAL SANGAT KAYA RAYA... ???.....>>> KITA BERSYUKUR.. PERLAWANAN RAKYAT DAN PEJUANG GAZA.. SUNGGUH MENTAKJUBKAN... DAN SANGAT DAHSYAT.. >> MEMBUAT ISRAEL DAN MATA DUNIA TERBELALAK...!!!... >>> SUNGGUH GAZA .. BERHASIL SEBAGAI BANGSA YANG DISEGANI.. DAN MENJADIKAN LAWAN2.. SEMAKIN GENTAR...!!! >> ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR...!!! BERKAT PERTOLONGAN DAN RAHMAT ALLAH MAHA KUASA.. GAZA... TAK PERNAH ... KALAH...>>> BAHKAN KINI SEMAKIN NYATA KUAT DAN PERKASA...!!! >> MAKA MESIR-ARAB SAUDI-ISRAEL-AS-INGGRIS..DKK... SEMAKIN KECEWA.. DAN MENJADIKAN MEREKA.. KAUM YANG TERHINAKAN... DAN TER CEMOOHKAN.. KARENA KEBENGISAN DAN KEZHALIMAN SERTA KESERAKAHAN MEREKA.. !!! WALAUPUN TERHADAP BANGSA YANG TERJAJAH DAN TERTINDAS.. SEPERTI PALESTINA.. DAN GAZA SEBAGAI PUSAT PERLAWANAN... BANGSA PALESTINA...AL MUBARAK AL KARIEM...!!! >>> LONG LIFE AND GLORIOUS GAZA AND WHOLE PALESTINE -FREE COUNTRY....>> AND GO TO HELL ISRAEL-USA-UK. AND THE REGIME OF EGYPT AND SAUDIA..CS...!! .. Perang di Gaza jauh lebih sulit dari perang di Lebanon ataupun operasi pertahanan di Tepi Barat. Para prajurit cadangan penjajah Israel “Yoav” mengatakan bahwa mereka pernah ikut perang di Lebanon Selatan dan Tepi Barat, namun masuk ke Gaza jauh lebih berat. Karena para tentara pejuang hari ini berbeda dari hari kemarin...>>> ...Para tentara penjajah itu mengatakan bahwa mereka sangat takut dengan para pejuang yang keluar dari dalam tanah dan melakukan penangkapan terhadap tentara penjajah...>> ...Seorang prajurit berinisial “S” mengatakan bahwa dia mencoba untuk menenangkan dirinya ketika malam tiba karena suara-suara ledakan yang didengarnya tidak sama dengan suara ledakan dari misil tank mereka, melainkan suara misil anti tank...>>...... Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.....>>> ....Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab...>> ....Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka......>> ..Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam. Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir....>> ...Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel. Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina....>>> kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya....>>>

Sikap Dingin Raja Saudi atas Perlawanan Hamas


By on 4:22 PM 
http://muslimina.blogspot.com/2014/07/sikap-dingin-raja-saudi-atas-perlawanan.html# 



Tanyakan kepada pejabat Palestina mengapa Presiden Mahmoud Abbas tidak pernah bertemu Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi?

Anda pasti akan mendapat jawaban singkat; "Dingin." Lainnya menjawab seraya tertawa; "Pastinya dingin politik."
 
Jika tidak Mahmoud Abbas yang enggan bertemu, Raja Abdullah menggunakan alasan kesehatan untuk membatalkan pertemuan. Padahal, Raja Abdullah sangat menderita dengan beredarnya spekulasi, setiap kali terjadi pembatalan pertemuan.
 
Riyadh menutup pintu bagi Hamas, karena tidak ingin penguasa Jalur Gaza itu menjadi cabang Ikhwanul Muslimin. Lebih dari itu, Arab Saudi berniat melucuti kelompok perlawanan Palestina berapa pun biayanya.
 
Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
 
Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina.
 
Hamas relatif hanya bergantung pada Turki dan Qatar. Di level diplomatik, Turki rela mengorbankan hubungannya dengan Mesir. Sedangkan Qatar menyediakan kebutuhan finansial bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza.
 
Informasi terakhir, menurut situs Al-akhbar, Riyadh menyusun proposi baru dengan maksud melucuti Hamas dan Jihad Islam. Perlucutan dilakukan dengan cara mengirim tentara ke Rafah, dengan iming-iming uang. Semua itu dibungkus dengan semangat rekonsiliasi.
 
Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam.
 
Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir.
 
Qatar juga melihat niat terselubung Riyadh. Saat berkunjung ke Arab Saudi, 23 Juli lalu, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani mempersingkat pembicaraannya dengan Raja Abdullah, dan segera kembali ke Doha.
 
Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka.
 
Bagi Qatar, tidak sulit mencari bukti semua ini. Pernyataan Shaul Mofaz -- menteri pertahanan Israel -- pada 20 Juli adalah salah satunya.
 
Saat itu, kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya.
 
Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.
 
Sumber-sumber Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza membenarkan adanya tawaran murah hati dari negara-negara Teluk untuk Abbas, sebagai imbalan perlucutan senjata, mencabut blokade ekonomi, rencana pembangunan komprehensif Jalur Gaza dan Tepi Barat.
 
Satu hal yang tidak dilihat Riyadh, Kairo, dan negara-negara Teluk lainnya, adalah Jihad Islam, Hamas, dan faksi-faksi perlawanan, kini semakin kuat dan mampu bertahan dari gempuran Israel dan melakukan perlawanan dalam perang darat.
 
Menlu AS John Kerry yang justru melihat semua itu. Dalam wawancara dengan CNN, Kerry secara terbuka mengatakan Hamas bukan lagi pejuang amatiran.
 
Di medan tempur, setelah kehilangan 12 serdadunya dalam pertempuran darat Minggu lalu, juru bicara militer Israel Letkol Peter Lerner mengatakan; Hamas saat ini adalah pasukan yang menjalankan latihan ekstensif, suplai senjata yang baik, dan mampu bertempur dengan motivasi dan disiplin tinggi."
 
Kepada pers internasional yang dikutip situs Alalam.ir, Lerner juga mengatakan, "Kami tengah menghadapi lawan tangguh di medan perang."
 
Ketika Hamas dan Jihad Islam menolak semua usulan gencatan senjata, Israel terus membunuh dan membunuh. Namun, negeri Yahudi tersebut bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kekejian itu. Tangan pemimpin Arab Saudi, Mesir, AS, dan UEA, juga berlumur darah bocah-bocah Palestina. (atjehcyber)

Busuknya Pemerintah Arab Saudi, Mereka Malah Lebih Memusuhi Hamas Daripada Zionis Israel

http://www.suaranews.com/2014/07/busuknya-pemerintah-arab-saudi-mereka.html 

 

Pengkhianatan AS-UK-dan Kerajaan Arab Saudi Cs terhadap bangsa dan rakyat Palestina sejak pre 1946-2014. 

Tanyakan kepada pejabat Palestina mengapa Presiden Mahmoud Abbas tidak pernah bertemu Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi?
Anda pasti akan mendapat jawaban singkat; "Dingin." Lainnya menjawab seraya tertawa; "Pastinya dingin politik."
Jika tidak Mahmoud Abbas yang enggan bertemu, Raja Abdullah menggunakan alasan kesehatan untuk membatalkan pertemuan. Padahal, Raja Abdullah sangat menderita dengan beredarnya spekulasi, setiap kali terjadi pembatalan pertemuan.
Riyadh menutup pintu bagi Hamas, karena tidak ingin penguasa Jalur Gaza itu menjadi cabang Ikhwanul Muslimin. Lebih dari itu, Arab Saudi berniat melucuti kelompok perlawanan Palestina berapa pun biayanya.
Belakangan, Riyadh memimpin upaya ini, dengan Mesir dan Uni Emirat Arab sebagai pelaksananya. Semua langkah ini dikoordinir langsung oleh Amerika Serikat dan Israel.
Tidak sulit membuktikan dugaan ini. Caranya, baca usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir, yang bermaksud melucuti senjata Hamas. Usulan ini disetujui, atau bahkan dipaksakan AS, seraya Israel terus membunuh anak-anak dan wanita Palestina.
Hamas relatif hanya bergantung pada Turki dan Qatar. Di level diplomatik, Turki rela mengorbankan hubungannya dengan Mesir. Sedangkan Qatar menyediakan kebutuhan finansial bagi seluruh rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Informasi terakhir, menurut situs Al-akhbar, Riyadh menyusun proposi baru dengan maksud melucuti Hamas dan Jihad Islam. Perlucutan dilakukan dengan cara mengirim tentara ke Rafah, dengan iming-iming uang. Semua itu dibungkus dengan semangat rekonsiliasi.
Mahmoud Abbas melihat dirinya akan melakukan bunuh diri politik jika menerima usulan Riyadh. Alih-alih rekonsiliasi, Abbas melihat yang sedang dilakukan Arab Saudi adalah melemahkan perlawanan Palestina dan memicu perang saudara antara Hamas dan Jihad Islam.
Abbas telah memberi tahu Hamas dan Jihad Islam soal ini. Ia juga mengatakan serangan Israel tidak dimaksudkan untuk melemahkan rekonsiliasi, tapi memaksa Hamas menerima usulan gencatan senjata yang diajukan Mesir.
Qatar juga melihat niat terselubung Riyadh. Saat berkunjung ke Arab Saudi, 23 Juli lalu, Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani mempersingkat pembicaraannya dengan Raja Abdullah, dan segera kembali ke Doha.
Al-Thani tahu Arab Saudi dan Mesir sedang berupaya melucuti

Hamas. Jika Hamas bersedia, Riyadh berusaha membayar kompensasi seluruh korban tewas dan terluka.
Bagi Qatar, tidak sulit mencari bukti semua ini. Pernyataan Shaul Mofaz -- menteri pertahanan Israel -- pada 20 Juli adalah salah satunya.

Saat itu, kepada jaringan televisi Channel 10 Mofaz mengatakan bahwa tidak mungkin bagi Israel mendemiliterisasi Gaza, dan melucuti paksa Jihad Islam dan Hamas. Perlu upaya diplomatik dan ekonomi komprehensif, dan Arab Saudi serta Uni Ermirat Arab dalam memainkan peran penting dalam penyediaan dana untuk melaksanakannya.

Fakta lain adalah pernyataan Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.

Sumber-sumber Hamas dan Jihad Islam di Jalur Gaza membenarkan adanya tawaran murah hati dari negara-negara Teluk untuk Abbas, sebagai imbalan perlucutan senjata, mencabut blokade ekonomi, rencana pembangunan komprehensif Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Satu hal yang tidak dilihat Riyadh, Kairo, dan negara-negara Teluk lainnya, adalah Jihad Islam, Hamas, dan faksi-faksi perlawanan, kini semakin kuat dan mampu bertahan dari gempuran Israel dan melakukan perlawanan dalam perang darat.

Menlu AS John Kerry yang justru melihat semua itu. Dalam wawancara dengan CNN, Kerry secara terbuka mengatakan Hamas bukan lagi pejuang amatiran.

Di medan tempur, setelah kehilangan 12 serdadunya dalam pertempuran darat Minggu lalu, juru bicara militer Israel Letkol Peter Lerner mengatakan; Hamas saat ini adalah pasukan yang menjalankan latihan ekstensif, suplai senjata yang baik, dan mampu bertempur dengan motivasi dan disiplin tinggi."

Kepada pers internasional yang dikutip situs Alalam.ir, Lerner juga mengatakan, "Kami tengah menghadapi lawan tangguh di medan perang."

Ketika Hamas dan Jihad Islam menolak semua usulan gencatan senjata, Israel terus membunuh dan membunuh. Namun, negeri Yahudi tersebut bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kekejian itu. Tangan pemimpin Arab Saudi, Mesir, AS, dan UEA, juga berlumur darah bocah-bocah Palestina.

Inilah Kesaksian Tentara Israel Tentang Tentara Hamas Yang Menakutkan


By on 2:59 PM 
http://muslimina.blogspot.com/2014/07/inilah-kesaksian-tentara-israel-tentang.html# 



GAZA -- Sebuah kesaksian disampaikan oleh tentara penjajah Israel di media Israel 'Haaretz' yang menceritakan pengalaman mereka dalam perang di Jalur Gaza.

Para tentara penjajah itu mengatakan bahwa mereka sangat takut dengan para pejuang yang keluar dari dalam tanah dan melakukan penangkapan terhadap tentara penjajah.

Seorang prajurit berinisial “S” mengatakan bahwa dia mencoba untuk menenangkan dirinya ketika malam tiba karena suara-suara ledakan yang didengarnya tidak sama dengan suara ledakan dari misil tank mereka, melainkan suara misil anti tank.


“Apa yang paling kami takuti pada perang di Gaza adalah kami tidak dapat melihat apapun pada malam hari namun hanya mendengar ledakan-ledakan di semua tempat,'' ujar prajurit tersebut.

Perang di Gaza jauh lebih sulit dari perang di Lebanon ataupun operasi pertahanan di Tepi Barat. Para prajurit cadangan penjajah Israel “Yoav” mengatakan bahwa mereka pernah ikut perang di Lebanon Selatan dan Tepi Barat, namun masuk ke Gaza jauh lebih berat. Karena para tentara pejuang hari ini berbeda dari hari kemarin.

Sementara media Israel lainnya, Yediot Ahronot, mengatakan bahwa untuk pertama kalinya para perwira militer ditempatkan di barisan terdepan dengan maksud semula untuk mengangkat semangat para prajurit, namun justru banyak diantara perwira tersebut terbunuh.

“Kita harus mengakui bahwa kita menghadapi pejuang bersenjata lengkap dengan senjata yang canggih dan presisi termasuk senjata berat dan mortir,'' salah seorang sumber Zionis mengatakan kepada Guardian.

“Ini adalah pertempuran yang sangat sulit dan sangat mengejutkan, karena para pejuang sudah menunggu kami,” ujar sumber tersebut menambahkan tentara Israel telah mengalami hari-hari paling buruk.(republika)


Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan

Selasa,  29 Juli 2014  −  14:35 WIB http://international.sindonews.com/read/887024/45/mengintip-terowongan-hamas-yang-membuat-israel-ketakutan
Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan
Salah satu terowongan di Gaza yang menembus wilayah Israel. | (European Pressphoto Agency / Jim Hollander)
GAZA - Dalam sebuah perang darat, seorang perwira militer Israel, Letnan Kolonel Oshik Azulai, kaget sekaligus takut. Dia melihat terowongan gelap gulit di perbatasan Jalur Gaza Palestina. Dalamnya, sekitar 46 meter.

Ponsel, katanya, tidak bisa aktif di dalam terowongan itu. Kolonel Azulai, yang menjabat sebagai Wakil Komandan Divisi Gaza Selatan Militer Israel itu, menceritakan terowongan yang dia jumpai membentang ke wilayah Israel. Bentuknya mirip seperti bentuk semangka.

Melalui salah satu terowongan itulah, banyak militan Gaza menyusup ke Israel dan membunuh sejumlah tentara Zionis. Sejumlah terowongan itu pula yang membuat warga dan pejabat Israel ketakutan, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

”Kami tidak akan menyelesaikan operasi tanpa menetralkan terowongan, satu-satunya tujuan yang merupakan penghancuran warga sipil dan pembunuhan anak-anak kita,” kata Netanyahu dalam sebuah pidato di televisi. (Baca: Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tetara Zionis)

”Tidak mungkin bahwa warga negara Israel akan hidup di bawah ancaman mematikan (dari) rudal dan penyusupan (militan) melalui terowongan. Kematian (datang) dari atas dan dari bawah,” lanjut dia, seperti dikutip New York Times.

Terowongan di Gaza, semula menjadi imajinasi para pejabat Israel sejak tahun 2006, ketika militan Hamas menculik seorang tentara Israel. Tapi, kini terowongan itu bukan lagi imajinasi, tapi menjadi ancaman yang menakutkan bagi para pejabat Israel.

Banyak ahli di Israel semula meragukan perjuangan para militan di Gaza dengan mengandalkan terowongan. Tapi, mereka kini mulai pikir-pikir untuk meremehkan militan Gaza melalui terowongan itu.

”Ini membawa kita sedikit ke masa kecil, seperti dongeng dari setan,” kata Eyal Brandeis, 50, seorang ilmuwan politik yang tinggal di Kibbutz Sufa, satu mil dari tempat 13 militan yang muncul dari terowongan saat fajar pada 17 Juli 2014 lalu.

“Ini adalah sangat lingkungan pastoral tempat saya tinggal, kondisinya tenang, dengan rumput hijau, dan pohon-pohon. Ini bukan pikiran yang menyenangkan bahwa Anda duduk pada suat hari di teras, minum kopi dengan istri dan sekelompok teroris akan muncul dari tanah,” ujarnya yang menyebut para militan sebagai teroris.

Pihak militer Israel mengatakan, setidaknya sudah lebih dari 70 terowongan ditemukan. Salah satu terowongan yang dianggap menakutkan adalah terowongan Ein Hashlosha. Di mana, melalui terowongan itu terdapat air, kerupuk; sekaligus granat roket dan senapan otomatis.
  
Ada juga kamar kecil untuk tidur atau bersembunyi. Selain itu terdapat pula borgol plastik, seragam tentara Israel.”Itu alah satu terowongan yang sangat baik,” kata Kolonel Azulai. ”Ini seperti kereta bawah tanah, di bawah tanah Gaza.”


Ada Kecanggihan

Ahli Israel mengatakan untuk membantun setiap terowongan akan memakan waktu hingga satu tahun dan biaya hingga USD2 juta. Bahkan untuk membuatnya butuh puluhan penggali yang bekerja dengan tangan dan dengan alat-alat listrik kecil.

Militer Israel, kata Azulai, telah mengetahui tentang cerita terowongan itu sejak 2003. Tapi, para tentara Israel baru kaget setelah mengetahui ada kecanggihan yang mereka temukan.

Perwira intelijen pernah melacak sejumlah terowongan di Gaza Mereka bahkan mengandalkan peralatan komunikasi yang digunakan di bawah tanah.

”Sebagian besar alat, tepatnya alat fisik, tidak bekerja di bawah tanah. Itu sangat terbatas,” kata Brigjen. Jenderal Shimon Daniel, yang memimpin korps zeni tempur Israel 2003-2007. ”Ini adalah paradoks. Ini bukan hal mudah. Ini lebih sulit (dari yang dibayangkan).”

Senin petang kemarin (28/7/2014), kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel. Mereka menyusup ke wilayah Israel melalui terowongan, menyamar dan kemudian menghabisi 10 tentara Zionis Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.
(mas)

Jakartatheraphy Theraphy's photo.
Mengintip Terowongan Hamas yang Membuat Israel Ketakutan
Salah satu terowongan di Gaza yang menembus wilayah Israel. | (European Pressphoto Agency / Jim Hollander)

D*alam sebuah perang darat, seorang perwira militer Israel, Letnan Kolonel Oshik Azulai, kaget sekaligus takut. Dia melihat terowongan gelap gulita di perbatasan Jalur Gaza Palestina. Dalamnya, sekitar 46 meter.

Ponsel, katanya, tidak bisa aktif di dalam terowongan itu. Kolonel Azulai, yang menjabat sebagai Wakil Komandan Divisi Gaza Selatan Militer Israel itu, menceritakan terowongan yang dia jumpai membentang ke wilayah Israel. Bentuknya mirip seperti bentuk semangka.

Melalui salah satu terowongan itulah, banyak militan Gaza menyusup ke Israel dan membunuh sejumlah tentara Zionis. Sejumlah terowongan itu pula yang membuat warga dan pejabat Israel ketakutan, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

”Kami tidak akan menyelesaikan operasi tanpa menetralkan terowongan, satu-satunya tujuan yang merupakan penghancuran warga sipil dan pembunuhan anak-anak kita,” kata Netanyahu dalam sebuah pidato di televisi.

”Tidak mungkin bahwa warga negara Israel akan hidup di bawah ancaman mematikan (dari) rudal dan penyusupan (militan) melalui terowongan. Kematian (datang) dari atas dan dari bawah,” lanjut dia, seperti dikutip New York Times.

Terowongan di Gaza, semula menjadi imajinasi para pejabat Israel sejak tahun 2006, ketika militan Hamas menculik seorang tentara Israel. Tapi, kini terowongan itu bukan lagi imajinasi, tapi menjadi ancaman yang menakutkan bagi para pejabat Israel.

Banyak ahli di Israel semula meragukan perjuangan para militan di Gaza dengan mengandalkan terowongan. Tapi, mereka kini mulai pikir-pikir untuk meremehkan militan Gaza melalui terowongan itu.

”Ini membawa kita sedikit ke masa kecil, seperti dongeng dari setan,” kata Eyal Brandeis, 50, seorang ilmuwan politik yang tinggal di Kibbutz Sufa, satu mil dari tempat 13 militan yang muncul dari terowongan saat fajar pada 17 Juli 2014 lalu.

“Ini adalah sangat lingkungan pastoral tempat saya tinggal, kondisinya tenang, dengan rumput hijau, dan pohon-pohon. Ini bukan pikiran yang menyenangkan bahwa Anda duduk pada suat hari di teras, minum kopi dengan istri dan sekelompok teroris akan muncul dari tanah,” ujarnya yang menyebut para militan sebagai teroris.

Pihak militer Israel mengatakan, setidaknya sudah lebih dari 70 terowongan ditemukan. Salah satu terowongan yang dianggap menakutkan adalah terowongan Ein Hashlosha. Di mana, melalui terowongan itu terdapat air, kerupuk; sekaligus granat roket dan senapan otomatis.
Ada juga kamar kecil untuk tidur atau bersembunyi. Selain itu terdapat pula borgol plastik, seragam tentara Israel.

”Itu salah satu terowongan yang sangat baik,” kata Kolonel Azulai. ”Ini seperti kereta bawah tanah, di bawah tanah Gaza.”

*Ada Kecanggihan*

Ahli Israel mengatakan untuk membangun setiap terowongan akan memakan waktu hingga satu tahun dan biaya hingga USD 2 juta. Bahkan untuk membuatnya butuh puluhan penggali yang bekerja dengan tangan dan dengan alat-alat listrik kecil.

Militer Israel, kata Azulai, telah mengetahui tentang cerita terowongan itu sejak 2003. Tapi, para tentara Israel baru kaget setelah mengetahui ada kecanggihan yang mereka temukan.

Perwira intelijen pernah melacak sejumlah terowongan di Gaza Mereka bahkan mengandalkan peralatan komunikasi yang digunakan di bawah tanah.

”Sebagian besar alat, tepatnya alat fisik, tidak bekerja di bawah tanah. Itu sangat terbatas,” kata Brigjen. Jenderal Shimon Daniel, yang memimpin korps zeni tempur Israel 2003-2007. ”Ini adalah paradoks. Ini bukan hal mudah. Ini lebih sulit (dari yang dibayangkan).”

Senin petang kemarin (28/7/2014), kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel. Mereka menyusup ke wilayah Israel melalui terowongan, menyamar dan kemudian menghabisi 10 tentara Zionis Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.

*Mortir Gaza Hantam Eshkol, 4 Tentara Israel Tewas*

Empat tentara Israel tewas setelah serangan mortir dari Gaza menghantam sebuah situs militer di Eshkol, Israel selatan, semalam (28/7/2014).

Media Israel semula melaporkan, korban tewas adalah warga sipil. Namun, tidak berselang lama, militer Israel mengkonfirmasi bahwa empat korban tewas adalah tentara Israel.

Militer Israel juga menyampaikan informasi terbaru, bahwa total korban tewas dari kubu militer Israel hingga hari ini (29/7/2014) sudah mencapai 48 jiwa. Selain itu, tiga warga Israel juga tewas selama perang di Gaza berlangsung.

Yang menjadi pukulan telak bagi militer Israel adalah aksi militan Brigade al-Qassam yang menyusup ke wilayah Israel. Para militan itu menyamar dan membunuh 10 tentara Israel.

*Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis*

Kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel, Senin petang kemarin. Mereka berhasil menewaskan 10 tentara Israel setelah militan al-Qassam menyamar dan menyusup di barisan militer Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.
Setelah membunuh 10 tentara Israel, para militant al-Qassam itu berhasil pulang dengan selamat ke pangkalan mereka di Gaza.

Sementara itu, Militer Israel mengakui ada penyusupan dari militan Jalur Gaza melalui terowongan yang menembus wilayah Israel.

“Militan melepaskan tembakan terhadap pasukan Israel dan kami pencarian sedang dilakukan untuk menemukan mereka,” bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip kantor berita Ma’an, Selasa (29/7/2014).

Sedangkan media Israel, Chanel 10 melaporkan, telah terjadi baku tembak di dekat Nahal Oz, sebelah timur Gaza. Militer Israel mengklaim telah membunuh empat militan Gaza.

Perintah Militer Zionis Israel Agar Tentaranya Bunuh Diri Daripada Ditawan Hamas

http://www.suaranews.com/search/label/top/ 


Militer rezim Zionis Israel dalam salah satu perintah rahasia untuk pasukannya mengumumkan, "Sebelum kalian tertawan, bunuh diri."
Situs berita Al Sharq Al Awsat (29/7) mengutip sebuah sumber Israel melaporkan, staf komando Angkatan Bersenjata Israel memerintahkan pasukannya untuk tidak sampai menjadi tawanan pejuang Palestina.
Militer Israel menyarankan kepada pasukannya untuk bunuh diri agar tidak menjadi sandera, bahkan di beberapa kasus militer Israel sendiri yang membunuh pasukannya.
Pasca tertangkapnya seorang tentara Israel oleh Brigade Ezzeddin AlQassam, di perbatasan Gaza, tank-tank Israel membombardir wilayah ini sehingga tentara-tentaranya tewas dan tidak menjadi tawanan.
Militer Israel juga memperingatkan pasukannya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan Gilad Shalit, tentara Israel yang kebebasannya harus ditebus oleh lebih dari 1000 tahanan Palestina.

Is the West Bank witnessing a resurgence of Fatah’s al-Aqsa Martyr Brigades?

A Palestinian protester holding his national flag stands amid smoke after tear gas was fired by Israeli security forces during clashes in the West Bank village of Bilin, on July 28, 2014, following a demonstration in support of Palestinians from the Gaza Strip. (Photo: AFP-Abbas Momani)
http://english.al-akhbar.com/content/west-bank-witnessing-resurgence-fatah%E2%80%99s-al-aqsa-martyr-brigades
Published Monday, July 28, 2014

While Fatah may have made an about-face with its attitudes regarding the war on Gaza, it will not be able to easily reactivate its armed wing, al-Aqsa Martyrs Brigades, owing to its long political journey that has broken the back of its military leaders.

Hebron – “Al-Aqsa Martyrs Brigades, the armed wing of the Fatah Movement, claims responsibility for firing at the occupation forces stationed at the Qalandia checkpoint in Ramallah…and confirms there were casualties among them on Saturday June 26, 2014.” 

This was not a random statement or just another military statement coming from the Resistance in Gaza during the war. No, this was from the West Bank. 








Those who do not know what it means for Fatah’s al-Aqsa Martyrs Brigades to claim responsibility for armed clashes in a West Bank city are invited to pay attention to the fact that Operation Defensive Shield in 2012, coupled with the subsequent policy of security collaboration between the Palestinian Authority and Israel, were the most important factors in putting down the Resistance there, especially since most martyrdom operations in the occupied territories that once haunted Israel had originated from the West Bank. 
 Since then, Fatah sought to distance itself from armed struggle, on the grounds that the liberation phase of the cause had ended. Fatah focused instead on “state-building,” and accordingly, amnesty with Israeli consent was given to activists from al-Aqsa Martyrs Brigades, including those involved in killing Israeli soldiers. These activists were reintegrated into educational and rehabilitation programs, and then into jobs in Palestinian Authority institutions, and were given salaries and promotions. 

Nevertheless, al-Aqsa Martyrs Brigades and similar organizations continued to be designated as “terrorist groups.” The logo of Fatah’s military wing, details about its members and operations and so on, continue to be found on the websites of several international “counter-insurgency” organizations.

As clashes recently erupted in many parts of the West Bank, the question that has emerged is this: Will al-Aqsa Martyrs Brigades make a comeback – recall that Fatah established the organization at the beginning of the second intifada – to lead events again and the Palestinian street toward a third intifada? For one thing, stone throwing has lost its practical effectiveness compared to armed struggle since the first intifada, even though it remains a symbol that haunts the occupation. 








Before attempting to answer this question, it should be pointed out that al-Aqsa Martyrs Brigades’ vision is to end Israeli occupation in the territories occupied in 1967 to establish a Palestinian state, that is, its vision is consistent with that of the political wing of the Fatah movement. However, this did not prevent al-Aqsa Martyrs Brigades from carrying out commando operations during the second intifada outside the West Bank, hitting targets as far as Tel Aviv. 
 Al-Aqsa Martyrs Brigades’ cells expanded into Gaza, but its growth in the Strip was stunted with the assassination of its founder there, Jihad Amarin, after which al-Aqsa Martyrs Brigades scattered into small combat groups. Al-Aqsa Martyrs Brigades’ role in Gaza gradually disappeared as Mahmoud Abbas’ faction took over the Palestinian Authority, and today, its presence there is limited to groups supported by Hamas (Ayman Jaoudeh’s groups), by the Palestinian Islamic Jihad (al-Mujahidin and Abu Sharia), and by Hezbollah (Imad Mughniyeh).

The dismantling of the Brigades

As part of the social engineering process in the West Bank following the end of the second intifada, and as part of the Palestinian state-building process on the basis of peace, democracy, and coexistence with the occupation, the Palestinian Authority and Israel agreed in October 2008 to grant amnesty to al-Aqsa Martyrs Brigades activists who agreed to lay down their arms and sign documents pledging not to participate in any operations against Israel. 

The total number of individuals who received amnesty was 329, out of a long list prepared by the Israelis of all fugitives in the West Bank from all factions. The list was handed over to the Palestinian Authority, who formed the so-called Fugitives Committee to hold dialogue with them before granting them amnesty in return for their arms and other conditions.

Under the agreement, the Israeli authorities stopped trying to apprehend the fugitives, provided the latter were kept in the custody of the security services for three months. At the end of the three-month period, the Israeli authorities were notified of which individuals received full or partial pardons, and who was taken off – or kept on – the list of fugitives, including al-Aqsa Martyrs Brigades activists who had completely renounce resistance. 

Some of those included in the deal were allowed to move only in Area A (the areas under Palestinian control), while others who were refused amnesty in the past were placed under probation pending a final decision in their cases. Individuals who received partial amnesty were allowed to leave at 7 am, but had to go back to sleep the night at Palestinian Authority detention centers. Yet all this humiliation did not stop the Israelis from assassinating or detaining individuals who had been granted amnesty. 

The detailed background above is meant to clarify how an armed resistance organization that had external support was dismantled, while another organization seized its weapons in return for amnesty and a normal life if the activists pledged to renounce “violence.” 

Subsequently, armed individuals in Palestinian cities, villages and some refugee camps began to disappear, and after 2008 any armed individual who refused to lay down his or her arms was dealt with harshly. 








There were some who were able to keep their weapons and dodge the trap of conditional amnesty and the efforts to dismantle the Resistance in the West Bank. These rejectionists, including former detainees, had to acquire weapons at double the price in order to have a safety net in light of the profound transformations affecting the Palestinian political landscape. This faction remained on the ground, stationing itself in camps like Jenin, Balata, Qalandia, and other areas designated by the Palestinian Authority and Israel as hotspots.

An imminent comeback?

The current situation is marked by Fatah’s retreat from armed struggle, in parallel with the detention or even assassination of the former leaders of armed resistance. In addition, the current Palestinian leadership in the West Bank favors so-called peaceful resistance, such as protests (a majority of which are prohibited from going to areas of direct contact with the occupation). 

On the other hand, recent shooting incidents indicate that a green light was given to some armed individuals who must coordinate with one another and with some in the leadership – because no one can move this quickly to carry out armed attacks except with protection from the eyes of the security services. 

Apart from the theory that Mohammed Dahlan, expelled Fatah leader, is trying to ignite the West Bank based on the fact that he has a long track record in security coordination, it is possible to interpret the incidents in another way: While it is very unlikely that Fatah cadres or all of Fatah could be drawn into a full confrontation, it seems that some armed cells have taken it upon themselves to initiate some individual efforts. However, it is important to note that these efforts are difficult to transform into a systematic phenomenon as a result of complicated circumstances on the ground and the lack of funding – an important issue especially with the extremely high prices of weapons in the West Bank.

Since the Israeli attacks on Gaza over 20 days ago, clashes in the West Bank and the occupied territories are growing in frequency and number. There have been more than 36 spots where clashes occurred with the occupation forces, with a corresponding number of press reports about al-Aqsa Martyrs Brigades’ involvement in a number of attacks on Israeli targets. 

So does this mean that the armed organization has returned? Will sleeper cells be activated to confront Israeli forces, especially in light of reports that Hezbollah is directly funding the Brigades in the West Bank? It is also possible to raise other questions about purported decisions by some Palestinian Authority leaders to take advantage of al-Aqsa Martyrs Brigades’ return to win the sympathy of the masses, who are disillusioned with the political failure of their leadership. 

In this context, it should be noted that security collaboration is still the biggest threat to armed struggle in the West Bank, specifically in the refugee camps, which the Palestinian Authority could not re-engineer and demilitarize. The Palestinian Authority continues its attempts to nip any seeds of Resistance in the bud, even when those seeds are affiliated to Fatah. At any rate, it is very possible that we will see solitary cells engaged in guerilla warfare and attacks using small arms, and those who know the West Bank will know that such cells could indeed hurt the enemy and haunt the settlers and soldiers deployed on the streets and along the checkpoints.

This article is an edited translation from the Arabic Edition.

Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis

Selasa,  29 Juli 2014  −  10:38 WIB
http://international.sindonews.com/read/886991/43/menyamar-di-israel-militan-al-qassam-habisi-10-tentara-zionis
Menyamar di Israel, Militan al-Qassam Habisi 10 Tentara Zionis
Para militan Brigade al-Qassam siaga dengan senjatanya. | (Maan)
GAZA - Kelompok sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam membunuh 10 tentara Israel, Senin petang kemarin. Mereka berhasil menewaskan 10 tentara Israel setelah militan al-Qassam menyamar dan menyusup di barisan militer Israel.

Insiden itu terjadi di wilayah Israel. Tepatnya di sebelah timur al-Shujaiyya. ”Pejuang menyusup di belakang garis musuh dan menewaskan 10 tentara (Israel),” bunyi pernyataan al-Qassam.

Setelah membunuh 10 tentara Israel, para militant al-Qassam itu berhasil pulang dengan selamat ke pangkalan mereka di Gaza.

Sementara itu, Militer Israel mengakui ada penyusupan dari militan Jalur Gaza melalui terowongan yang menembus wilayah Israel.

“Militan melepaskan tembakan terhadap pasukan Israel dan kami pencarian sedang dilakukan untuk menemukan mereka,” bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip kantor berita Ma’an, Selasa (29/7/2014).

Sedangkan media Israel, Chanel 10 melaporkan, telah terjadi baku tembak di dekat Nahal Oz, sebelah timur Gaza. Militer Israel mengklaim telah membunuh empat militan Gaza.

Empat Serdadu Israel Tewas Terkena Roket Pejuang Palestina





Serangan rudal dan roket para pejuang Palestina ke posisi-posisi militer rezim Zionis Israel telah menewaskan empat tentara Zionis.
 
Para pejuang Palestina pada Senin (28/7) menembakkan sejumlah rudal ke posisi-posisi Zionis di wilayah Eshkol sebagai balasan atas kejahatan-kejahatan militer Israel. Demikian dilaporkan FNA.
 
Serangan balasan tersebut telah menewaskan empat tentara Israel dan melukai tujuh lainnya.
 
Kanal 10 televisi rezim Zionis telah mengkonfirmasi tewasnya empat tentara Israel dan terlukanya beberapa dari mereka dalam serangan rudal ke Eshkol.
 
Sumber-sumber Zionis hingga kini hanya mengkonfirmasi bahwa 41 tentaranya telah tewas sejak digelar perang di Jalur Gaza. Padahal Brigade Izzudin al-Qassam dalam statemen terbarunya mengatakan bahwa 91 tentara Zionis telah tewas sejak serangan Israel ke Gaza. (IRIB Indonesia/RA)

Wakil Panglima Pasdaran: Perang Gaza Awal Keruntuhan Israel




Wakil Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, Pasdaran mengatakan, perang Gaza adalah awal dan pendahuluan keruntuhan rezim Zionis Israel.

Mehr News (28/7) melaporkan, Jenderal Hossein Salami, Ahad (27/7) malam, terkait serangan-serangan yang dilakukan Israel ke Gaza menekankan urgensi pembelaan atas negara-negara Islam dari serangan musuh.

 
Menurutnya syuhada adalah bukti bernilai, harga diri dan kemuliaan bangsa Iran yang menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Iran secara total akan melindungi tanah airnya.

Salami menegaskan, bangsa Iran di puncak ketidakadilan politik, ekonomi dan militer, mampu membela diri dalam perang yang dipaksakan selama delapan tahun. Mereka sama sekali tidak membiarkan sejengkal tanahnya direbut musuh dan ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah manusia.
(IRIB Indonesia/HS)

Kiat Hamas Jaga Semangat Juang Lawan Zionis Israel

Senin, 21 Juli 2014, 06:00 WIB
Republika/Daan 
Ikhwanul Kiram Mashuri
Ikhwanul Kiram Mashuri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Sungguh memprihatinkan! Ketika para pejuang Palestina di Jalur Gaza sedang menghadapi serangan membabibuta Zionis Israel, ada beberapa pengamat Timur Tengah, pemimpin Arab, dan pihak-pihak lain yang justeru menyalahkan sikap para pemimpin Pergerakan Hamas.

Pertama, mereka mempertanyakan mengapa pejuang Hamas tetap saja meluncurkan roket-roketnya ke wilayah Israel, padahal senjata tersebut tidak membahayakan keamanan negara Zionis itu. Bahkan sebagian besar roket itu telah hancur di udara dilumpuhkan oleh sistem pertahanan canggih anti-rudal Israel yang disebut Iron Dome.

Kedua, dengan kengototan pejuang Hamas meluncurkan roket ke wilayah Israel berarti ada alasan sah Negara Yahudi itu untuk terus menyerang Jalur Gaza. Serangan yang hingga pada hari Sabtu saja, dua hari lalu, telah menewaskan 40 syahid Palestina. Dengan demikian, serangan udara dan darat tentara Zionis Israel yang berlangsung sejak beberapa hari lalu telah memakan korban sejumlah 340 syahid dan lebih dari 3.400 orang luka-luka berat dan ringan. Belum lagi ratusan rumah dan fasilitas umum yang hancur rata dengan tanah. Kalau saja Hamas tak meluncurkan roketnya, kata mereka, mungkin Israel Israel tidak akan menyerang Gaza.  

Pertanyaannya, adakah para pejuang Hamas harus memberhentikan serangan roket-roketnya ke wilayah Zionis Israel dan kemudian menerima tawaran Pemerintah Mesir untuk gencatan senjata?


Selasa pekan lalu (15/7) Mesir menawarkan solusi gencatan senjata yang dikatakannya akan menguntungkan kedua belah pihak. Dengan solusi ini, kata Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shukri,  kedua pihak berkesempatan untuk saling menghentikan perang, mencegah pertumpahan darah warga Palestina, membebaskan blokade terhadap Gaza, dan memberi kesempatan kedua belah pihak untuk berunding.

Namun, tawaran itu ditolak Hamas. Mereka menilai, solusi yang ditawarkan Mesir bukan win-win solution, tapi justeru lebih menguntungkan pihak Israel. Misalnya, dalam solusi versi Mesir itu tidak disebutkan bahwa Israel adalah pihak agresor dan penjajah, apalagi sebagai penjahat perang. Di sana, Israel juga tidak dipersalahkan menyerang Gaza dan telah menewaskan ratusan warga dan menghancurkan rumah-rumah dan falitas umum lainnya.  

Menurut kolomnis Timur Tengah Tohir Al ‘Udwan di media Aljazira.net, semua solusi yang tidak menyalahkan Israel berarti memaksa bangsa Palestina menerima semua kejahatan yang dilakukan penjajah Zionis Israel sejak 1967. Dengan demikian, katanya, bangsa Palestina  sepertinya disuruh memili dua pilihan yang sama-sama pahit.

Pertama, mereka dipaksa menerima fakta pendudukan Israel, menjadikan wilayah Palestina sebagai daerah Yahudi, blokade, penangkapan, dan pengusiran orang-orang Palestina dari tanah airnya. Dengan kata lain, tuntutan bangsa Palestina untuk membebaskan tanah airnya, mendirikan negara merdeka, dan memulangkan para pengungsi adalah ilegal.

Kedua, bangsa Palestina dipaksa tunduk dan menerima tindakan Israel selama ini, baik yang terkait dengan perundingan berat sebelah atau pembunuhan dengan berbagai senjata canggih yang bisa didapat dan dikembangkan oleh Zionis Israel. Sungguh, lanjut Al ‘Udwan, sangat aneh bila berbagai serangan dan pembunuhan yang dilakukan Zionis Israel selama ini yang justeru dipersalahkan adalah para pejuang Palestina, hanya lantaran  meluncurkan roket-roke Al Qosam ke wilayah Israel.

Sementara itu, proses perundingan yang sudah dimulai sejak 25 tahun lalu justeru  telah memberi keleluasaan kepada Zionis Israel untuk membangun ribuan pemukiman Yahudi di daerah pendudukan serta mengyahudikan identitas Masjidil Aqsa dan sekitarnya. Juga  menangkap para pejuang dan mengusir orang-orang Palestina dari rumahnya, serta menghancurkan rumah-rumah warga Palestina.

Karena itu, perlawanan bangsa Palestina -- meskipun dengan roket-roket sederhana dan mungkin ketinggalan zaman dibandingkan dengan persenjataan canggih Israel -- harus dibaca sebagai simbol perjuangan melawan kezaliman. Kezaliman dari musuh yang tidak memberi pilihan lain kecuali kematian cepat dengan serangan persenjataan canggih atau kematian pelan-pelan dengan blokade darat, udara, dan laut.

Ya, perlawanan bangsa Palestina, termasuk dengan roket-roket sederhana, harus dimaknai sebagai simbol kehendak bangsa yang ingin merdeka. Simbol sebuah bangsa yang ingin menjaga semangat juang terhadap kesewenang-wenangan. Ya, inilah kiat dan cara bangsa Palestina selama ini untuk menjaga semangat juang melawan kezaliman Zionis Israel.

Belajar dari sejarah bangsa-bangsa, ternyata senjata bukan segalanya untuk memperoleh kemerdekaan. Yang diperlukan adalah semangat juang untuk menuntut kebebasan dan kemerdekaan. Yang dibutuhkan adalah menegakkan harga diri dan kehormatan yang telah diinjak-injak oleh penjajah. Ya, kemerdekaan dan kebebasan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan bukan sebuah pemberian atau belas kasihan.

Indonesia mempunyai pengalaman panjang bagaimana merebut kemerdekaan meskipun dengan persenjataan yang sangat sederhana. Tidak ada senjata api, bambu runcing pun jadi untuk membuat keder musuh yang bersenjatakan modern. Bangsa Palestina juga sudah berpengalaman dengan intifadah 1 dan intifadah 2. Intifadah adalah perang rakyat semesta dengan bersenjatakan apa adanya: ketepel, lemparan batu, pisau dapur, dan apapun yang kejangkau oleh tangan. Gerakan intifadah pernah membuat penjajah Israel tunggang langgang meninggalkan gelanggang perang.

Kini yang dibutuhkan oleh bangsa Palestina adalah solidaritas dari dunia internasional, terutama bangsa-bangsa yang suka kebebasan dan kemerdekaan. Bangsa-bangsa yang membenci penjajahan, kezaliman, dan eksploitasi sebuah bangsa atas bangsa lain. Ya,  penjajahan seperti dilakukan Zionis Israel pada bangsa Palestina adalah musuh bersama seluruh bangsa yang menjunjung tinggi dan mencintai kebebasan dan kemerdekaan.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar