Kamis, 19 Desember 2013

PUTIN DAN BANDAR BIN SULTAN BERMAIN CATUR DI PAPAN SURIAH...???>>> .... DAHSYAAT... POLISI BAGDAD BERJIBAKU MENYELAMATKAN WARGA SIPIL TAK BERDOSA.. DARI SERANGAN TERORIS...??Point ketiga: Tidak Damaskus maupun Moskow membutuhkan dana Saudi untuk membangun kembali Suriah; Rusia, Iran dan China yang akan melakukannya (pekerjaan pembangunan kembali Suriah). Point keempat: Rusia dan AS telah mencapai kesepemahaman bahwa terorisme takfiri adalah berbahaya, tidak hanya untuk keamanan Amerika, tetapi juga untuk keamanan Rusia dan keamanan global. Orang-orang Eropa yang mengkhawatirkan kembalinya para teroris - juga setuju dengan hal ini. Point ke lima: Putin mengatakan, agar Bandar bin Sultan (Arab Saudi) meninggalkan dukungannya pada pemberlanjutan gerakan sektarian dan terorisme, karena itu adalah pedang bermata dua yang akan kembali dan menyerang Arab Saudi, membangun momentum dengan cara yang pada nantinya Arab Saudi tidak akan mampu untuk mengendalikannya."..>>> ...Sepupu Khalaf, Hassan Jassem; "Sepupu saya, Ayyub Khalaf berdiri di hadapan terorisme (gerakan Pan-Salafist) ketika dia menyelamatkan warga sipil dari kematian. Kami sangat bangga terhadapnya," tuturnya. Tandas Jaafar Khamis, Kolega Khalaf di kepolisian; "Kami sangat bangga terhadapnya, karena dia dengan berani menghadapi terorisme, dan mampu membungkam suara kekerasan dan ketidakadilan - dengan mengorbankan jiwa-raganya."...>>>


Aparat Polisi Irak memeluk Pelaku Bom Bunuh Diri untuk menyelamatkan Warga sipil.

19 Desember 2013
https://www.facebook.com/pages/Harian-Militer-dan-Konflik-Bersenjata/166930326829416
 
Baghdad - Kisah mengharukan datang dari Ayyub Khalaf, Polisi Irak berusia 34 tahun. Polisi ini dengan berani memeluk pelaku bom bunuh bunuh diri, beberapa saat sebelum pelaku meledakkan diri, demi melindungi warga sipil yang ada di sekitarnya.

Ayyub Khalaf tewas dalam ledakan tersebut, meninggalkan istri dan dua orang anak. Tindakan berani Khalaf berhasil meminimalisir korban tewas dalam kejadian tersebut.

Sedikitnya 5 orang tewas dan 10 orang lainnya luka-luka dalam kejadian ini. Seorang kolonel polisi setempat menyatakan, korban tewas akan lebih banyak jika Khalaf tidak dengan berani mengorbankan nyawanya.

Kolonel polisi tersebut menerangkan, Khalaf tanpa rasa takut mendekati pelaku dan melingkarkan lengannya untuk memeluk pembom bunuh diri tersebut, sesaat sebelum ledakan terjadi. Seperti dilansir AFP, Kamis (19/12/2013), kejadian ini berlangsung di wilayah Khales, Baghdad.

"Ayyub menjadi martir melindungi warga sipil. Namanya akan menjadi simbol yang akan dikenang, karena dia menyelematkan puluhan orang tak bersalah," ucap seorang rekan Khalaf, Saad Naim.

Sepupu Khalaf, Hassan Jassem; "Sepupu saya, Ayyub Khalaf berdiri di hadapan terorisme (gerakan Pan-Salafist) ketika dia menyelamatkan warga sipil dari kematian. Kami sangat bangga terhadapnya," tuturnya.

Tandas Jaafar Khamis, Kolega Khalaf di kepolisian; "Kami sangat bangga terhadapnya, karena dia dengan berani menghadapi terorisme, dan mampu membungkam suara kekerasan dan ketidakadilan - dengan mengorbankan jiwa-raganya."

http://news.detik.com/read/2013/12/19/085303/2446160/1148/peluk-pelaku-bom-bunuh-diri-untuk-selamatkan-warga-polisi-irak-tewas?991104topnews
 
Photo: Aparat Polisi Irak memeluk Pelaku Bom Bunuh Diri untuk menyelamatkan Warga sipil.

19 Desember 2013
Baghdad - Kisah mengharukan datang dari Ayyub Khalaf, Polisi Irak berusia 34 tahun. Polisi ini dengan berani memeluk pelaku bom bunuh bunuh diri, beberapa saat sebelum pelaku meledakkan diri, demi melindungi warga sipil yang ada di sekitarnya.

Ayyub Khalaf tewas dalam ledakan tersebut, meninggalkan istri dan dua orang anak. Tindakan berani Khalaf berhasil meminimalisir korban tewas dalam kejadian tersebut.

Sedikitnya 5 orang tewas dan 10 orang lainnya luka-luka dalam kejadian ini. Seorang kolonel polisi setempat menyatakan, korban tewas akan lebih banyak jika Khalaf tidak dengan berani mengorbankan nyawanya.

Kolonel polisi tersebut menerangkan, Khalaf tanpa rasa takut mendekati pelaku dan melingkarkan lengannya untuk memeluk pembom bunuh diri tersebut, sesaat sebelum ledakan terjadi. Seperti dilansir AFP, Kamis (19/12/2013), kejadian ini berlangsung di wilayah Khales, Baghdad.

"Ayyub menjadi martir melindungi warga sipil. Namanya akan menjadi simbol yang akan dikenang, karena dia menyelematkan puluhan orang tak bersalah," ucap seorang rekan Khalaf, Saad Naim.

Sepupu Khalaf, Hassan Jassem; "Sepupu saya, Ayyub Khalaf berdiri di hadapan terorisme (gerakan Pan-Salafist) ketika dia menyelamatkan warga sipil dari kematian. Kami sangat bangga terhadapnya," tuturnya.

Tandas Jaafar Khamis, Kolega Khalaf di kepolisian; "Kami sangat bangga terhadapnya, karena dia dengan berani menghadapi terorisme, dan mampu membungkam suara kekerasan dan ketidakadilan - dengan mengorbankan jiwa-raganya."

http://news.detik.com/read/2013/12/19/085303/2446160/1148/peluk-pelaku-bom-bunuh-diri-untuk-selamatkan-warga-polisi-irak-tewas?991104topnews

BRIGADE INGGRIS DIAM-DIAM BERTEMPUR DI SURIAH
https://www.facebook.com/BeritaHarianSuriah
 
Sky News telah memperoleh akses pertama ke brigade “mujahidin” Inggris eksklusif yang sedang bertempur di Suriah yang sebelumnya tidak diketahui.

Sampai saat ini, keberadaan brigade Inggris ini dirahasiakan, tetapi terungkap bahwa dinas keamanan Inggris telah sangat meremehkan skala keterlibatan warga negara Inggris dalam pertumpahan darah.
Dalam serangkaian wawancara luas dan terang, “mujahidin”, yang telah meminta Sky News untuk melindungi identitas mereka karena takut reaksi terhadap keluarga mereka di Inggris, mengungkapkan bahwa ratusan pemuda dari Inggris telah bergabung dengan perang melawan pemerintahan Bashar al-Assad dan bahwa sedikitnya empat orang dari mereka meninggal setiap bulan.

Mereka juga mengaku bahwa Inggris tetap menjadi sumber penggalangan dana pribadi terbesar untuk “mujahidin”, melampaui negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab.

Dalam wawancara khusus jurnalis AS dan mualaf Bilal Abdul Kareem untuk Sky News, para “mujahidin” menekankan bahwa mereka tidak punya niat untuk menyerang sasaran Inggris atau melancarkan jihad di wilayah Inggris.

Kepala dinas keamanan Inggris telah memperingatkan bahwa para pemuda yang bepergian ke Suriah berisiko menjadi radikal sebelum pulang, untuk melakukan serangan teror di Inggris.

Bertempur di puncak gunung di timur laut negara itu (Suriah), orang-orang ini terlihat seperti “mujahidin” garis keras, tetapi ketika mereka berbicara, dapat diketahui bahwa mereka adalah orang Inggris. Mereka bercanda dan tertawa di antara mereka, kadang-kadang membandingkan foto-foto “narsis” mereka. Mereka hampir tidak berbicara bahasa Arab dan tergantung pada salah satu dari mereka untuk memberikan perintah di medan perang.


Seperti tentara Inggris, mereka membahas perangkat militer dan barang-barang yang sebaiknya dibeli untuk bertempur. Dalam suatu percakapan, seorang pemuda tersebut disarankan untuk membeli teropong baru dan dengan naifnya bertanya apakah eBay akan mengirimkan pesanan tersebut.

Satuan militer Inggris mengatakan bahwa jumlah mereka meningkat setiap hari dan situs jejaring sosial membantu mengatur masuknya mereka ke Suriah.

Mereka tahu akan sangat sulit kembali ke keluarga mereka di Inggris sejak saat ini, dalam kenyataannya, mereka mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan kembali — harapan hidup tentara yang bertempur di Suriah sangat kecil begitu pertempuran serius terjadi.

Kelompok yang sangat berkomitmen ini menepis banyak prasangka yang menggambarkan “mujahidin” di Suriah. Apakah ada yang setuju atau tidak setuju dengan mereka tidak dengan sendirinya terkait, belum setidaknya, karena ini adalah pertama kalinya kami mendengar mereka berbicara.

Seorang juru bicara Kantor Urusan Luar Negeri Inggris berkata, “Suriah adalah tujuan nomor satu ‘mujahidin’ mana pun. Ada ribuan ‘mujahidin’ asing di Suriah, termasuk sejumlah besar orang Eropa, mendapatkan pengalaman tempur dan menempa hubungan dengan ekstrimis.”

“Beberapa orang yang melakukan perjalanan dari Inggris ke Suriah untuk bertempur akan menimbulkan ancaman keamanan ketika mereka kembali. Kami prihatin bahwa afiliasi Al-Qaeda seperti Negara Islam Irak dan Syam (ISIL) dan Front Al-Nusra (ANF) kini dapat beroperasi di daerah-daerah tak bertuan yang luas, yang tercipta oleh konflik.”

“Kami tahu ada setidaknya 200 orang Inggris yang kami perhatikan telah melakukan perjalanan ke Suriah, namun jumlah sebenarnya mungkin lebih banyak.”

Sumber: www.breakingnews.sy/en/article/30950.html

 
Rusia dan Arab Saudi kembali berhadapan diatas papan catur Suriah
15 Desember 2013
https://www.facebook.com/pages/Harian-Militer-dan-Konflik-Bersenjata/166930326829416
 
Banyak orang masih mengingat pertemuan spektakuler pada bulan Agustus lalu, di Moskow, antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Direktur Intelijen Nasional Arab Saudi, Bandar bin Sultan.

Pekan lalu, juga di Moskow, sekali lagi dalam kerahasiaan mutlak, sampai bocoran dari "sumber dekat dan dapat diandalkan di Rusia” informasi ini sampai ke koran Lebanon, Al-Manar.

Ofensif pertama Bandar bin Sultan adalah bencana, tidak hanya Putin menolak usahanya untuk "menyuap" Moskow agar meninggalkan Damaskus, tetapi kemudian Rusia justru berperan sangat penting dalam melakukan pemblokiran terhadap agenda pemerintahan Obama (harapan liga Arab) dari melakukan intervensi militer ke Suriah.

Pekan lalu, Bandar Bandar bin Sultan kembali mengajukan “penawaran” pada Rusia (istilah lembut).

Diantaranya:

Point pertama:

Arab Saudi meminta pengunduran jadwal konferensi perdamaian Jenewa - 2 yang dijadwalkan pada tanggal 22 Januari.

Point kedua:

Presiden Suriah Bashar al-Assad mungkin tetap memerintah selama periode ini, tetapi kekuasaan yang sesungguhnya harus ditransfer ke pemerintah sementara yang dipimpin oleh Pihak "Oposisi " ("pemberontak" yang dikendalikan oleh Riyadh dan Barat).

Point ketiga:

Bandar Bin Sultan juga mengharapkan Rusia untuk menekan Assad untuk tidak menyerukan pelaksanaan pemilu presiden tahun 2014.

Point ke empat:

Pembuatan konstitusi Negara Suriah yang baru di masa pemerintah sementara, dan berdasar konstitusi baru itu Pemilu kemudian akan dilangsungkan dengan Assad dikecualikan dari pencalonan.

Point ke Lima:

Jika Moskow (Rusia) berdiam (menyetujui tawaran Arab Saudi ini), Arab Saudi akan lebih "berkontribusi" untuk biaya pembangunan kembali Suriah (yang hancur akibat perang) .

Mengesampingkan sikap mendikte dari Arab Saudi untuk masa depan Suriah, jawaban Presiden Rusia - Vladimir Putin, dapat diringkas sebagai model menahan diri.

Demikian;

Point pertama:

Dinyatakan bahwa "Oposisi" bersenjata dan dibiayai oleh Arab Saudi dan Qatar telah mengalami kekalahan beruntun.

Point kedua:

Juga, dukungan Arab Saudi untuk (apa yang dikatakan sebagai pihak oposisi) tidak ada hubungannya dengan demokrasi, para pemberontak ini adalah teroris.

Point ketiga:

Tidak Damaskus maupun Moskow membutuhkan dana Saudi untuk membangun kembali Suriah; Rusia, Iran dan China yang akan melakukannya (pekerjaan pembangunan kembali Suriah).

Point keempat:

Rusia dan AS telah mencapai kesepemahaman bahwa terorisme takfiri adalah berbahaya, tidak hanya untuk keamanan Amerika, tetapi juga untuk keamanan Rusia dan keamanan global. Orang-orang Eropa yang mengkhawatirkan kembalinya para teroris - juga setuju dengan hal ini.

Point ke lima:

Putin mengatakan, agar Bandar bin Sultan (Arab Saudi) meninggalkan dukungannya pada pemberlanjutan gerakan sektarian dan terorisme, karena itu adalah pedang bermata dua yang akan kembali dan menyerang Arab Saudi, membangun momentum dengan cara yang pada nantinya Arab Saudi tidak akan mampu untuk mengendalikannya."

http://rt.com/op-edge/syria-putin-bandar-saudi-263/
Apakah semua ini berarti Arab Saudi akan berhenti dari perannya sebagai pengusung operasi “Jihad Monarki” di Suriah?, jauh dari itu:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=196853793837069&set=a.166931433495972.1073741828.166930326829416&type=1&theater

Analisis dan Strategi:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=196892547166527&set=a.166931433495972.1073741828.166930326829416&type=1&theater


Tidak ada komentar:

Posting Komentar